by danang.wijanarko@gmail.com
Bagian Buruk
Negeri penjajah. Aku ceritakan begitu, yang jelek-jelek dulu. Hanya negara ini diantara negara-negara Uni-Eropa yang mungkin sudah berkarat budayanya. Sebutlah hanya di negara ini yang namanya peta kota itu bayar 12 euro, belum aku jumpai di negara skandinavia seperti Swedia, Ireland, Bordeaux, Luxembourg, Jerman, Perancis yang mengelilinya, mungkin juga Belgia yang mempunyai adat jelek seperti ini. Bertanya juga sepertinya penuh dengan trik di Schipol.
Lihatlah lagi ketika aku sudah membeli tiket kereta antar negara Thalys yang paperless (ticketless), kutanyakan untuk ticketingnya di konter tiket, "Maaf saya ingin menanyakan tentang tiket saya yang saya pesan di internet, apakah perlu di print ?". Dengan enggan mereka mengatakan ketidaktahuannya, "Maaf, saya tidak tahu, tiket anda ada tapi tidak bisa kami print, lebih baik anda tanya langsung ke kondektur di atas kereta mungkin anda beruntung". Pertanyaan dalam hatiku cuma satu, bagaimana jika seorang yang masih baru akan menghadapinya. Menghadapi kemungkinan jika ternyata tidak diperbolehkan oleh kondektur, atau dimarahi, atau ditanyai macam-macam, padahal ini adalah negara orang lain.
Hmmm ... lalu aku bertanya lagi, "Apakah kondektur di atas kereta memahami tiket ini ?". Jawab penjaga loket itu dengan agak sinis, "Saya tidak tahu, cobalah saja !". Bagaimana seorang penjaga tiket kereta yang sudah bekerja di situ setiap hari bisa memberi jawaban seperti itu, "Brengsek !!!".
Ok, aku putuskan untuk naik kereta dan mencoba nanti saja di kereta, namun penjaga gerbang mengatakan untuk print tiket di loket. Aku coba lagi bertanya di loket, namun jawabannya sungguh menggelikan, "Ok aku akan printkan, tapi anda bayar saya 5 euro". Aku memperhatikan cara dia bicara seperti itu dengan cara yang menjijikkan sekali. Dengan menatap layar monitor tanpa memperhatikanku dan berbisik. Ternyata 350 tahun kita terjajah benar-benar terwariskan sifat yang seperti ini. Tidak heran.
Sisi buruk lainnya, Amsterdam terlalu bebas pergaulan manusia. Sangat mudah sekali tergelincir disini. Dosa kesusilaan seperti suatu yang sudah umum. Anda pasti tahu. Suka dengan sesama jenis, marijuana dan ganja adalah bebas. Sudah seperti kaum Sodom dan Jemoroh.
Bagian Menyenangkan (Tidak selalu bagian menyenangkan itu baik)
Kota ini sangat terbuka bagi orang asing, anak-anak muda begitu mudah menyatu dengan orang yang tidak dikenal dan sangat berani dengan kontak fisik yang "menyenangkan". Mungkin mereka terlalu banyak menghisap ganja. Mungkin.
Yang unik lagi, adalah struktur bangunan kota yang masih sangat terasa kesan kunonya ditambah penduduk kota yang mayoritas masih memakai sepeda biasa untuk transportasi. Sangat imajinatif menurutku. Struktur kanal-kanal sungai membelah kota disana-sini, jembatan-jembatan tua dan perahu-perahu kecil beserta padatnya penduduk seperti memberikan tatanan sosial yang rumit tapi harmonis.
Ada seorang "gadis" yang dengan tidak jelas ketika aku sedang mencoba mengambil gambar dengan kamera DSLR amatirku tiba-tiba pipinya menempel di pipiku dan berteriak, "Picture ... !!!". Ah gila, aku sangat terkejut, tapi dia langsung berlari sambil tertawa-tawa mandangku yang masih kaget dan heran.
Cukup banyak tempat menarik di sini, tengoklah Rijks Museum yang terkenal, lalu Van Gogh Museum, zona merah Erotic Museum di Red Light District, dan Leidseplein Square. Semuanya menyenangkan untuk dijelajahi keunikan dan kebebasannya. Seperti yang aku bilang, relasi sosial di kota ini terlalu bebas. Pertunjukan-pertunjukan menarik di Leidseplein Square lebih menarik dari pertunjukan seni bebas yang mungkin anda pernah jumpai ketika jalan Malioboro Jogja ketika dulu, sebelum seperti sekarang. Ah ... cita rasanya sangat terasa kota ini, begitu unik, antik, dan khas.
Banyak orang mungkin memandang ini seperti surga dunia, tapi sudah aku bilang kota ini sudah mulai "berkarat", sebentar lagi hancur.
Beberapa gambar yang sempat aku upload, http://www.bekatul.info/v/amsterdam/
Amsterdam June, par -d @ 20/06/09
terus terang ana ikut panas
terus terang ana ikut panas ketika membaca article ente ini... capeek juga ngadepin orang seperti itu, tapi ente sudah di Indonesia kan sekarang?
Jadi memang dari sanalah budaya sogok menyogok dan segala macemnya nyampur jadi satu disitu?
Cuma cerminan subjectif
:) Alhamdulillah sudah di Indonesia sekarang, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada berkumpul dengan anak dan istri, di rumah yang kecil dan di negara kita yang memberi kesempatan untuk ibadah dengan leluasa, Indonesia.
Artikel di atas hanya penilaian subjectifku melihat Amsterdam saja mas, banyak orang juga tidak setuju dengan itu. Ada satu temanku juga sepertinya tertarik dengan Amsterdam dan pengen tinggal di sana, tapi itu adalah pilihan jalan hidup menurutku :P.
Mengenai budayanya tentang sogok-menyogok, mungkin teman lain mengalami hal yang berbeda, tapi yang kualami itulah yang ingin kuceritakan.